Lensa Darbi
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, November 10, 2010

Pahlawan di Sisi Allah SWT

Pada zaman Rasulullah, hiduplah seorang lelaki bernama Amir bin Jamuh. Meskipun kakinya pincang, Amir bertekad untuk ikut bertempur dalam Perang Uhud. Sejumlah sahabat mencegahnya. "Engkau sebaiknya tak ikut berperang karena kakimu pincang." Namun, Amir yang didukung istrinya tetap bertekad untuk ikut membela agama Allah SWT.

"Aku tidak percaya mereka telah melarangmu untuk ikut dalam pertempuran itu," tutur sang istri. Mendengar dukungan dari istrinya, Amir segera mengambil senjata, kemudian berdoa, "Ya, Allah, janganlah Engkau kembalikan aku kepada keluargaku."

Amir lalu menemui Rasulullah SAW. Dengan gigih, ia meyakinkan Nabi SAW. Sebenarnya, Nabi Muhammad meminta Amir agar tak ikut berperang. Namun, Amir terus mendesak dan akhirnya Rasulullah pun mengizinkannya.

Di medan pertempuran, Amir berteriak, "Demi Allah, aku ini sangat mencintai surga." Amir akhirnya gugur syahid di medan pertempuran. Setelah mendengar kabar kematian suaminya, sang istri segera mengendarai seekor unta untuk membawa pulang jenazahnya.

Ketika jenazah Amir diletakkan di atas unta, hewan itu tak mau berdiri. Berbagai upaya dilakukan, unta itu tetap tak mau berjalan, tapi malah asyik memandang Uhud. Ketika Rasulullah mengetahui kabar itu, beliau bersabda, "Sesungguhnya, unta itu telah diperintahkan untuk berlaku demikian. Adakah Amir mengatakan sesuatu ketika ia akan pergi meninggalkan rumahnya?"

Istrinya memberi tahu Rasulullah. Sebelum meninggalkan rumah untuk bertempur di medan perang, Amir menghadap kiblat sambil berdoa, "Ya, Allah, janganlah Engkau kembalikan aku kepada keluargaku." Itulah sebabnya, kata Rasulullah, unta itu tak mau pulang.

Kisah yang tercantum dalam kitab Himpunan Fadilah Amal karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi itu menggambarkan keberanian dan kepahlawanan orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka hanya berharap menjadi pahlawan yang gugur syahid di sisi-Nya.

Dalam surah Ali Imran [3] ayat 169-170, disebutkan bahwa orang yang gugur di jalan Allah sebenarnya tak mati, tetapi hidup di sisi Sang Khalik. Menurut Quraish Shihab, secara jasmani mereka telah mati, namun hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan dunia.

Mereka yang gugur di jalan Allah SWT benar-benar hidup di alam yang lain, berbeda dengan alam kita. Mereka tetap bergerak, bahkan mereka lebih leluasa dari manusia di bumi ini. Mereka tahu lebih banyak dari apa yang diketahui oleh yang berdenyut jantungnya.

Di alam sana, orang-orang yang gugur di jalan Allah telah melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena. Mereka juga mendapat rezeki dari Allah yang sesuai dengan kehidupan alam barzah. Maka itu, mereka bergembira karena berada dalam kehidupan yang sebenarnya di sisi Allah.

Mudah-mudahan, para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjadi pahlawan yang mendapat gelar yang paling tinggi, yaitu sebagai syuhada di sisi Allah SWT.

Red: Budi Raharjo

Rep: Oleh Prof Nanat Fatah Natsir

Sumber: Republika
 
Keluarga Besar SIT Darul Abidin mengucapkan Selamat Hari Pahlawan 10 Nopember 1945
Semoga perjuangan dan pengabdianmu dapat kami teruskan mewujudkan Indonesia maju, adil, dan sejahtera, semoga jasa dan kebaikanmu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

Friday, November 05, 2010

Duka dan Suka kami.....

SDIT Darul Abidin Depok
Kamis pagi kemarin, tanggal 04 Nopember 2010. SDIT Darul Abidin mendapatkan  kabar duka sekaligus kabar suka dan bahagia. Kabar duka hadir dari Bpk. Saiful yang sejak senin kemarin mengabarkan bahwa orang tua beliau terserang strooke. Kemudian beliau dan keluarga membawa orang tuanya (red: Ny. H. Saodah) ke rumah sakit umum daerah (RSUD Depok). Kabar inipun sampai ditelinga guru, siswa, orang tua murid, dan pimpinan sekolah, dengan serta merta merekapun mengirimkan do'a tulus tuk kesembuhan Ny. H. Saodah. Tetapi ternyata Allah SWT lebih cinta kepadanya, dan mengambil ruh beliau kurang lebih pada pukul 20.00 WIB malam.

Segenap hati-hati para orang tua, guru, dan siswa kembali memunajatkan do'a khusyunya tuk kelapangan almarhumah Ny. H. Saodah, semoga dengan doa yang dipanjatkan  seluruh elemen sekolah. Beliau mendapatkan cucuran ampunan dan kasih sayang Allah di alam kubur, diberikan kemudahan dalam menerima  dan menjawab pertanyaan malaikat munkar wa nakir, dikaruniai anak yang sholeh yang selalu istiqomah melafadzkan do'a terbaiknya untuk beliau, dimasukkan kedalam surga dan dijauhkan dari azab neraka. Amiin.

Para guru segera berdatangan melayat (Ta'ziah) untuk menghibur Bpk. Saiful Anwar S.Ag. Salah satu guru terbaik SDIT Darul Abidin, dan mendo'akan kepergian almarhumah Ny. H. Saodah. Diantara guru yang turut hadir dalam penyelenggaraan jenazah mewakili pihak sekolah SIT Darul Abidin adalah Bpk. Mas'ud, Bpk. Maulana, Bpk. Nouvel, Bpk. Andri, Bpk. Nurkholis, Bpk. Nur Arifin, Bpk. Ismail, Bpk. Kamal dan penulis.

Duka terdalam kami tuk Bapak Saiful Anwar, S.Ag. Sekeluarga, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melantunkan do'a terbaik  tuk Almarhumah Ny. H. Saodah. Amiin.

Segenap pimpinan, karyawan, dan siswa-siswi SIT Darul Abidin mengucapkan :
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
Semoga segala amal baiknya diterima Allah SWT. Dan diampuni segala dosa dan kekhilafannya. Amiin.

Kabar Suka
Sementara itu, dalam penjuru yang lain. Sdr. Saifullah salah satu karyawan terbaik SDIT Darul Abidin mengabarkan kabar gembiranya kepada sekolah, setelah kelahiran putri pertamanya dengan berat 3,7 Kg, dan panjang 40 cm. Putri pertama yang lahir tepat pada pukul 18.45 WIB rencananya akan diberikan nama Hafizah. Semoga dengan kehadiran putri tercinta kinerja dan etos kerja orang tua semakin bersemangat, orang tua semakin dewasa, anak yang lahir diberikan rizki yang baik, menjadi anak sholehah, dan tumbuh sehat, besar, dan normal. Amiin.

Thursday, October 28, 2010

Belajar dari Malaysia

Tepat pukul 14.00 acara dimulai. Acara sempat molor dari waktu yang telah dijadwalkan. Sebelum acara dimulai, ruangan ditengarai oleh alunan musik klasik dan pop Islam yang dimainkan oleh pianis handal milik Darbi. Sosoknya tak asing lagi. Dengan kepiawaian jari-jemarinya, pianis tampan yang biasa dipanggil kak Azhar ini telah berhasil menyulap keadaan sehingga aula TK, Arqam Hall, menjadi hening namun penuh keceriaan.

Jeda. Tak lama setelah peserta berdatangan, acara dimulai. Seperti biasanya, acara dimulai dengan tilawah Al-Qur’an. Pada kesempatan ini dilantunkan oleh al-Akh Nurdin. Pundi-pundi ayat itu begitu menyentuh. Suara merdunya membuat para peserta hanyut. Qad aflahal mu’minun.... Ayat inilah yang dibacakannya.

Tilawah Al-Qur’an selesai. Acara diambil alih oleh Moderator, al-Akh Irfanudin. Sang Moderator menyampaikan bahwa acara yang dikemas menjadi Talk Show ini akan berbicara sekitar pengalaman belajar-mengajar yang diterapkan di Malaysia. Sebelum pembicara menyampaikan materinya yang dikerucutkan dengan judul “Classroom Management”, sang Moderator memperkenalkan pembicara dengan singkat. Beliau adalah Ustadz Abdul Malik salah satu pimpinan Sekolah Menengah Islam Al-Amin Kemaman Malaysia. Ini adalah kunjungan ketiganya ke Darul Abidin. Beliau ditemani 14 orang siswa dan 2 orang guru.

Ustadz Abdul Malik memulai sharing-nya dengan para peserta mengenai pentingnya Bahasa Inggris. Hal ini disampaikan berdasarkan pengalamannya mengajar dan belajar Bahasa Inggris. Menurutnya, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar belumlah menjiwai Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dunia. Padahal, sebuah bangsa, bisa dinilai besar/kecil dari persepsinya mengenai bahasa ini. Beliau menyebutnya dengan istilah sikap dan mentalitas. Dan hal ini amat terkait dengan worldview/maindset/tashawwur sebuah bangsa. Jika sebuah bangsa menganggap bahasa tidak penting maka lemahlah bangsa tersebut. Lebih jauh lagi dalam dunia pendidikan seperti lembaga pendidikan/sekolah, jika bahasa dengan sastranya tidak menjadi prioritas maka sekolah tersebut seperti tidak memiliki daya saing/nilai lebih. Akhirnya, beliau menutup pembukaannya dengan satu nasehat agar sekolah inipun mampu meningkatkan kwalitasnya dalam bahasa Inggris. Beliau memberi contoh dari hal-hal yang sangat sederhana, bahwa setiap guru harus tahu bahasa-bahasa sederhana/asasi dalam bahasa Inggris. Sambil mendekati seorang peserta beliau mencontohkan, dengan berkata, “What’s your name?”

Masuklah pada masalah inti, yaitu “Classroom Management”. Dari sekian hal yang disorotnya adalah, bahwa karakter/personality menempati posisi terpenting di dalam keberhasilan pembelajaran/pendidikan. Di Malaysia, lanjutnya, seseorang awam dengan sangat mudah membedakan personality seorang guru dari cara bersikap dan penampilannya. Seorang guru/cekgu harus menjadi pribadi yang pantas dicontoh. Jika nuansa perintah dilakukan, maka dirinyalah yang menjadi orang pertama yang melakukan perintah tersebut. Selain itu seorang guru juga harus mempopolerkan sensitifitasnya dengan kepeduliannya terhadap keadaan murid-muridnya. Menurut penelitian, guru termasuk profesi padat masalah, selain profesi tenaga kesehatan seperti dokter/perawat.

Masalah kedua yang tak kalah pentingnya, mengenai kedisiplinan. Titik dari masalah ini adalah, bagaimana membangun karakter siswa menjadi sangat baik. Baginya, keberhasilan sebuah institusi pendidikan tidaklah hanya dilihat dari baiknya peringkat/nilai siswa, tapi lebih dari itu adalah karakter sebagai central of value. Ustadz Abdul Malik pun menyampaikan, bahwa diantara letak keberhasilan problem kedisiplinan di Sekolah Al-Amin adalah, diterapkannya mentoring sebagai sebuah instrumen penguat dalam membentuk karakter siswa.

Acara Talk Show menjadi lebih menarik ketika sesi tanya jawab dibuka oleh moderator. Moderator mempersilahkan salah satu penanya. Penanya pertama bertanya tentang apakah Bahasa Inggris menjadi media pengajaran di setiap mata pelajaran di Malaysia?, kemudian pada tingkah menengah apakah siswa dan siswi digabung (ikhtilath) saat pembelajaran?. Mic pun dialihkan kepada penanya kedua, yang bertanya mengenai apakah kemampuan Bahasa Inggris menjadi syarat diterimanya seorang calon guru di Malaysia?

Sebelum Ustadz Abdul Malik menjawab satu persatu soal-soal tadi, moderator menambahkan, bahwa di Libya atau di negara Timur Tengah lainnya jumlah TKW jauh lebih banyak daripada pekerja di pelayanan publik seperti rumah sakit. Hal ini terjadi karena lemahnya kemampuan berbahasa, terutama Bahasa Inggris. Kita sebagai ummat Islam pun jangan sampai melupakan bahasa ibu, yaitu Bahasa Arab, dimana bahasa ini adalah sarana yang akan memudahkan kita melaksanakan agama Islam, sebab Bahasa Arab adalah bahasa pengantar Al-Qur’an dan Al-Hadits, tambahnya.

Mulailah Ustadz menjawab pertanyaan-pertanyaan, menurutnya, di Malaysia, khususnya di Al-Amin, Bahasa Inggris tidaklah digunakan sebagai bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran, kecuali pada materi Bahasa Inggris sendiri. Tapi di zaman pemerintahan Mahathir pernah diterapkan, bahwa buku-buku Matematika ditulis dengan berbahasa Inggris. Inipun imbas dari politisasi pendidikan, demikian hematnya. Dan Bahasa Inggris tidak mutlak menjadi syarat diterimanya seorang guru, kecuali bagi seorang guru Bahasa Inggris itu sendiri.

Mengenai penggabungan antara siswa dan siswa di sekolah menengah, beliau menyampaikan, bahwa di Al-Amin, tidak diterapkan pemisahan itu, tapi tetap digabungkan, hanya saja saat pengajaran berlangsung, yang siswa diposisikan pada posisi terdepan, dan siswinya di posisi belakang. Tapi penjagaan terhadap adab-adab Islami dalam bergaul begitu sangat ketat diterapkan. Beliau sempat mengkritisi, bahwa ada diantara siswanya yang berkomentar mengenai pola pergaulan antar jenis yang ada di Sekolah Islam Indonesia. Saat di kantin, siswa-siswi dengan leluasa bercengkerama pada satu meja tanpa batas. Lebih lanjut, menurutnya, para gurupun harus berdisiplin. Tidak melakukan sikap in-konsistensi, seperti satu sisi begitu tegas, tapi begitu longgar di antara sesama guru itu sendiri. Sebagai contoh, seorang guru pria tidak canggung berbicara dengan guru perempuan berlama-lamaan di sebuah tempat, apalagi sampai pulang bareng dengan saling berboncengan. Di Malaysia pun, diterapkan, bahwa tempat masuk siswa dan siswi dibedakan.

Penanya ketiga beralih kepada masalah pembangunan karakter, bagaimanakah sistem yang digunakan sekolah dalam rangka membentuk karakter siswa dan apakah ada materi khusus yang disampaikan? Sedangkan penanya terakhir, bertanya mengenai sistem penerapan hukuman cambuk/pukulan, dimana sebelumnya Ustadz Abdul Malik menyinggungnya.

Beliau menjawab pertanyaan ketiga, bahwa yang menjadi sistem pembentukan karakter siswa di Sekolah Al-Amin adalah dengan diterapkannya mentoring sebagai instrumen pengokohnya. Mentoring dilakukan dengan sangat sederhana. Dilakukan sekali dalam satu pekan. Lebih menitikberatkan pada masalah-masalah aplikatif, bukan teoritik. Model pengajaran dilakukan lebih evaluatif terhadap perilaku-perilaku siswa dalam sehari. Setiap siswa memiliki buku khusus berkenaan dengan evaluasinya, mulai dari masalah kedisiplinan perilaku sampai masalah ibadah. Dari masalah yang sangat besar sampai yang kecil sekalipun. Dari masalah yang terpenting sampai masalah yang penting.

Form evaluasi/mutaba’ah dibuat bertingkat, dimulai dari diri sendiri apakah melakukannya sampai pada kepeduliannya terhadap orang lain. Kepedulian kepada orang lain dilakukan sebagai upaya membanguun semangat dakwah. Sebagai contoh: 1. apakah Anda mengerjakan PR hari ini?; 2. apakah Anda mengajak orang lain untuk mengerjakan PR juga?. Contoh lain: 1. apakah hari ini Anda menonton TV?; 2. apakah acara yang Anda tonton hari ini berfaedah?; 3. apakah Anda mengajak orang lain untuk menonton acara yang berfaedah itu? Contoh lain: 1. apakah Anda menggosok gigi hari ini?; 2. apakah Anda mengajak orang lain untuk menggosok gigi hari ini?

Selanjutnya pada masalah hukuman. Di Al-Amin, katanya, hukuman fisik itu diterapkan sebagai cara terakhir di dalam membangun kedisiplinan siswa. Tentu penerapannya memiliki syarat-syarat, yaitu harus pimpinan/principal yang melakukannya dan pelanggaran yang dilakukan merupakan pelanggaran berat (seperti tidak sholat atau berprilaku/berkata lucah/pelecehan). Tausiyah, teguran, sampai sholat taubat yang dibimbing guru menjadi tahapan atau proses yang dilakukan pihak sekolah sampai akhirnya “terpaksa” harus mencambuk/ menghukum siswa dengan pukulan.

Tak terasa, ternyata jarum jam menunjukkan pukul 14.45, dan adzan telah berkumandang. Ustadz Abdul Malik pun menutup penyampaiannya dengan ucapan salam. Sebelum moderator menutup acara dengan do’a kafaratul majelis, dirangkumlah sebuah kesimpulan. Akhdzu mā shofa, wa tarku mā kadar (mengambil yang jernih, dan membuang yang kotor), demikian pendahulu kita mengajarkan. Semoga segala pelajaran dari Malaysia mampu menjadi inspirator dan dapat diamalkan.


Dilaporkan agar menjadi perenungan:
Abu Sabiq, Kelas PAI, 26 Oktober 2010, 11.45

Bencana Mengguncang Pertiwi

Photo: Getty Image/AFP

Email From : mukti imran act.mukti@gmail.com

Dear Sahabat Peduli,

Gempa bumi mengguncang Sumatera Barat, terjadi pada hari Senin, 25 Oktober 2010 jam 21.40 WIB dengan kekuatan 7,2 SR yang berpusat di kepulauan Mentawai di kedalaman 10 km. Gempa ini mengakibatkan Tsunami dengan ketinggian gelombang 3 s/d 7 m dan menyapu wilayah kepulauan Mentawai.

Terpantau Tsunami menimpa 10 Desa dengan rincian pengungsi di Kec. Sikakap, Desa Sikakap ada 150 KK, Desa Muara Taikako 100 KK. Kec. Pagai Utara, desa Silabu ada 150 KK. Kec. Pagai Selatan, Desa Malakopak ada 35 KK. Desa Sinakok ada 50 KK. Desa Malako 45 KK. Kec. Sipora, Desa Bosowa 125.

Data sementara dilaporkan 112 orang tewas, 502 orang Hilang di Mentawai.
Saat ini Tim Rescue Aksi Cepat Tanggap (ACT) sudah dilokasi sejak Selasa (26/10) pagi untuk membantu mengevakuasi korban yang meninggal dan yang masih hidup. Saat ini pengungsi sangat membutuhkan bantuan berupa bahan makanan, air mineral, selimut, obat-obatan, tikar, tenda, genset, perlengkapan wanita, perlengkapan bayi dan balita, juga susu bayi dan balita. Demikian Informasi terakhir yang dapat kami sampaikan. Kami harapkan kabar baiknya segera.

Bantuan dapat di salurkan melalui :
MANDIRI # 101 000 563 4264,
BSM # 101 000 5557
a/n Aksi Cepat Tanggapm
Careline : 021 74144822

Peduli adalah Solusi.
---
MUKHTI
ACT Foundation
Perkantoran Ciputat Indah Permai
Blok B-8, Jl. Ir. H. Juanda No. 50
Ciputat 15419
Telp. +62 21 741 4482
Fax. +62 21 742 0664
Hp 0856 9109 3645

Tuesday, October 26, 2010

BerQurban, benarkah hanya untuk orang kaya?

Ada dua kejadian yang cukup menggugah hati saya. Dan kalau ditarik ternyata ada benang merah yang saling terkait menghubungkannya. Kejadian pertama, saya baru selesai membaca buku difference for excellence karangan Ashoff Murtadha. Di dalam buku tersebut ada kata-kata yang cukup membuat saya terhenyak. Setidaknya, ini sudah mementahkan tulisan saya yang berjudul Antara Kultum dan Rule Model, salah satu artikel posting saya yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu. Berikut saya kutip sedikit isi kata-kata dari buku tersebut:

“Untuk menolong si miskin, seseorang tidak perlu menunggu jadi kaya. Untuk menolong orang susah, ia tidak perlu menunggu hidupnya mudah. Untuk menolong orang bodoh, ia tidak perlu menunggu menjadi pintar dulu. Untuk melakukan kebaikan, ia tidak harus menunggu segala sesuatu pada dirinya sempurna dulu. Justru penyempurnaan akan dicapai saat kebaikan itu dijalankan. Penyempurnaan itulah yang akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya amal kebaikan.”

Duh, saya benar-benar merasa tersindir, sedih dan nelangsa banget membaca kutipan kata-kata tersebut. Jujur, saya termasuk orang yang belum bisa berbuat banyak untuk bisa membantu orang lain. Saya selalu punya seratus satu alasan tiap kali hati ini tergerak untuk berniat membantu sesama. Ah, semoga anda tidak seperti saya, orang yang terlalu banyak berpikir kalau diminta berbuat kebajikan untuk membantu sesama.

Kejadian yang kedua, ini terkait dengan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban, hari raya agama Islam yang akan dirayakan seluruh umat muslim, salah satunya termasuk saya, pada tanggal 27 November 2009 nanti. Ada seorang kawan hari Jumat lalu curhat kepada saya. Dulu dia berpikir-- pikiran yang sama seperti pendapat saya – bahwa seorang muslim yang diwajibkan berQurban adalah hanya orang yang sudah mampu saja. Dan definisi mampu disini gambarannya, bukan orang seperti dia yang masih menempuh kuliah, uang masih nodong minta orang tua setiap bulannya, tapi pastilah seseorang yang sudah bekerja dan paling tidak, kaya sehingga mampu untuk berQurban.

Suatu waktu di jaman kuliahnya dulu kawan saya menceritakan berniat akan berQurban karena disuruh oleh orang tuanya. Singkat cerita dia kemudian hunting ke desa-desa untuk mencari kambing buat Qurban. Akhirnya tiba lah dia di sebuah desa di kabupaten Bantul Yogyakarta. Dia mendapati seorang anak desa yatim miskin karena sudah ditinggal mati bapaknya. Anak tersebut punya beberapa ekor kambing yang siap dijual untuk dipakai berQurban. Kawan saya kemudian menceritakan berniat membeli satu ekor kambing yang paling besar diantara kambing lainnya. Tetapi anak tersebut menolak menjualnya. Teman saya kemudian bersikeras mencoba membujuk anak tersebut agar mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Tapi anak tersebut tetap bersikeras menolak dan mengatakan: “Silahkan Bapak pilih kambing saya yang lainnya, Pak asal jangan kambing yang paling besar ini.”

Teman saya kemudian menawar: “Berapa harga yang kamu minta untuk kambing yang paling besar ini, Dik? Tolong sebutkan berapa, saya tidak akan nawar dan berapa pun harga yang kau minta saya akan bayar,” tegas kawan saya sedikit memaksa.

Anak tersebut tetap bersikukuh tidak mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Selidik punya selidik kawan saya jadi makin penasaran apa yang menjadi alasannya sehingga anak tersebut kekeh, tidak mau menjual kambingnya. Dan inilah alasan anak itu, yang membuat kawan saya jadi tersentak kaget mendengar jawabanya. “Bapak, kambing ini tidak saya jual karena mau saya pakai buat Qurban saya sendiri.”

Betapa terkejutnya kawan saya tersebut mendengar jawaban polos anak tersebut. Anak yang masih kecil, melarat, yang baru menginjak umur belasan tahun, dan masih duduk di bangku kelas 5 SD, yang untuk hidup sehari-hari saja susah, kok ya mau berQurban? Apalagi ini kambing yang paling besar pula, yang tentu saja bagi kebanyakan orang yang mau sedekah tentu merasa eman-eman untuk memakainya buat Qurban. Mending dijual aja buat makan atau biaya hidup lainnya. Toh, dia masih bisa Qurban dengan kambing lainnya yang lebih kecil. Deg! Kawan saya tersebut langsung menangis terharu, tersentuh hatinya mendengar jawaban polos anak tersebut. Jawaban, yang sekali lagi sudah mementahkan pendapat saya dan pendapat dia juga, bahwa berQurban hanya dilakukan oleh orang-orang kaya dan dewasa saja.

Dari dua kejadian ini, setidaknya sudah ada dua kejadian yang merupakan sebuah teguran tuhan kepada saya bahwa untuk tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, seharusnya saya tidak punya alasan lagi untuk menolak berQurban karena berbagai macam alasan.

Semoga cerita ini bisa sedikit menggugah hati anda. Dan harapan saya, meskipun anda yang baca tulisan ini bukan seorang muslim, terlebih seandainya iya, semoga anda bukan termasuk orang seperti saya, yang lupa kepada penciptaNya dan tidak mau berbuat baik membantu meringankan beban sesama, dengan salah satunya mau berQurban buat orang miskin di hari raya Idul Adha. Amin.

Selamat menyambut dan merayakan hari raya Idul Qurban, kawan!



Sunday, September 27, 2009

Bulan Aktualisasi


By A Ilyas Ismail
Rabu, 23 September 2009 pukul 19:05:00

Dalam kalender hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai bulan Syawal. Pada zaman dahulu, masyarakat Arab pra-Islam memiliki pandangan negatif mengenai bulan ini. Mereka, misalnya, menolak atau melarang melangsungkan pernikahan di dalamnya. Namun, tradisi ini dibatalkan oleh datangnya Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dikutip Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, menikahi Aisyah pada bulan Syawal dan memulai hidup bersama dengannya juga pada bulan Syawal. Kenyataan ini dibanggakan sendiri oleh Aisyah. Katanya, ''Siapa di antara isteri-isteri Nabi seberuntung aku di sisinya?''

Kata Syawal berasal dari kata Syala, berarti naik atau meninggi (irtafa'a). Dikatakan menaik atau meninggi, boleh jadi karena dua alasan. Pertama, karena pada bulan ini, kedudukan dan derajat kaum muslimin meninggi di mata Tuhan setelah mereka menjalankan puasa Ramadhan sebulan lamanya, seperti dijanjikan Nabi SAW dalam sekian banyak hadis. Kedua, karena secara moral kaum muslimin dituntut untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai-nilai yang mereka tempa selama bulan Ramadhan. Semangat Ramadhan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, kesabaran, disiplin, takwa, dan kesetiakawanan sosial harus tetap nyata pada bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya sepanjang hidup kita. Jadi, Syawal, sesuai dengan makna hafiahnya, dapat disebut sebagai bulan aktualisasi nilai-nilai.

Peningkatan dan aktualisasi nilai-nilia di atas, agaknya memang perlu kita ingat. Tidak semua kaum muslimin mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengabaikannya bersamaan dengan berlalunya bulan suci itu. Kenyataan ini tidak saja berlawanan dengan prinsip istiqamah, sikap keberagamaan yang stabil dan konstan, tetapi juga bertentangan dengan hakekat agama itu sendiri yang dalam Kitab Suci disimbolkan dengan istilah-istilah seperti shirath, sabil, syari'ah, dan minhaj, yang kesemuanya berarti jalan.

Ini mengandung makna bahwa keberagamaan itu adalah suatu perjalanan panjang tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Tujuan akhir agama itu adalah perjumpaan dengan Tuhan itu sendiri dalam perkenan-Nya. Dalam perjalanan itulah terdapat suatu dinamika dan kebahagiaan yang sungguh sangat sejati bagi orang yang menempuhnya, terutama ketika ia semakin dekat (taqarrub) dengan Tuhannya.

Sikap dan semangat keberagamaan seperti itulah agaknya yang dipesan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya kepada seluruh kaum muslimin dalam ayat ini: ''Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menuju dan berharap.'' (Q. S. 94: 7-8). ahi

Wednesday, September 09, 2009

ESQ SDIT Darul Abidin

SDIT Darul Abidin- Depok
Siswa- siswi SDIT Darul Abidin khususnya kelas 4- 6, kemarin (Selasa- 8 September 2009) baru saja melaksanakan kegiatan ESQ pimpinan kak Ary Ginanjar Agustian, selama pekan ini di bulan Ramadhan siswa siswi mengadakan kegiatan - kegiatan menyenangkan.
Mulai dari kegiatan Temu Penulis Cilik, Kegiatan ESQ Kids, dan lomba- lomba seperti kolase, gambar, cerdas cermat, tahfidz qur'an,dan terakhir hari sabtu nanti ada I'tikaf dan Ifthor Jama'i di Masjid dan Aula Darul Abidin.
ESQ kini menjamur diseluruh Indonesia
Berbagai pertanyaan diajukan???
Wah, bagus sekali presentasinya!!!
Antusias para peserta ESQ mendengarkan nasehat kakak dari ESQ
Kakak dari ESQ sedang memberikan bekal dan berbagai pertanyaan??
Pak. Mas'ud memberikan nasehat kepada siswa- siswi SDIT Darul Abidin

Tuesday, August 25, 2009

Meraih Ramadhan di Sekolah

SDIT Darul Abidin - Depok

Ramadhan, tamu agung seluruh umat beriman. Bulan penuh ampunan dan keberkahan, semua manusia beriman pasti akan merindukan kedatangannya. Berapa banyak rahmat dan keberkahan turun pada bulan ini, membuat seluruh umat Islam dunia menyambut, dan mengisi kegiatan ramadhannya dengan berbagai macam ibadah, mulai dari puasa, sholat lima waktu, zakat, shodaqoh, dzikir, sholawat, qiyammullail, deelel.


"Keberkahan ramadhan bukan hanya milik ummat muslim" begitu kata Ust. Aceng dalam kegiatan Tarhib Ramadhan di SDIT Darul Abidin, 19 Agustus yang lalu. "Tetapi juga milik seluruh ummat, kenapa karena para pedagang yang diuntungkan dengan kehadiran Ramadhan adalah bukan hanya dari kalangan muslim saja, namun juga ummat non muslim tak terkecuali, maka sungguh Maha Benar Allah dengan segala firmannya, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107).


Kehadiran Ramadhan menjadi semacam air segar yang memadamkan api yang membakar, juga seperti oase di padang yang tandus, yah, kesalahan kita sejatinya adalah menggunung, bukan yang terlihat sajalah dosa tercatat, tetapi dosa prasangka, penyakit hati, sombong, iri, dengki deelel, adalah berbagai dosa dan kealpaan yang kita perbuat sejatinya akan dihapuskan dengan Rahmat dan Maha Keampunan-Nya.


Muslim yang menyadari kesalahan, dan kealpaan yang telah diperbuatnya, serta selalu memohon keampunannya pastilah Allah akan memafkannya, karena Dialah Allah yang Maha Pengampun, dan Cinta dengan orang- orang yang memohon ampunan.

Mari bersama kita perbaiki Ramadhan kita, dengan Ramadhan penuh berkah walaupun hanya di Sekolah, dengan berbagai kegiatan di Sekolah kita (SDIT Darul Abidin) yakni, dimulai dengan tarhib ramadhan, kajian tarhib ramadhan, kajian ramadhan, persada guru+orang tua dan siswa, buka puasa bersama, bazar sembako dan bbq (barang baru/bekas berkualitas, pengobatan gratis, dan santunan untuk dhuafa.mr

Wednesday, December 03, 2008

Cinta yang Tak Rumit dari Faiz

Lensadarbi- Depok

Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya. Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum lebar Faiz.

"Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu…."
"Assalaamu'alaikum…."
"Mari Oma, mari Opa…"
"Dari mana, Tante?"
"Wah hari ini Kakak berseri sekali!"
"Mau kuliah, Bang?"
"Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"

Dan seterusnya….

Saat ia duduk di kelas II SD , saya pernah bertanya pada Faiz,

"Mas Faiz,apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?" Faiz tertawa.

"Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain. Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda."

Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum berumur delapan tahun.

"Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu mungkin sudah milyaran," ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.

Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah, mereka kerap membicarakan Faiz.

"Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali."

"Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?"

Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang banyak belajar dari Faiz!

Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk di bangku SD. Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu dipanggilnya, diajak makan dan minum.

"Hari ini di rumah masak sop dan perkedel."

Atau "Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk? Mau teh manis dingin?" Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya.

"Istirahat dulu di sini, Pak. Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau mau makan nasi?" Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota keluarga lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami tak terlalu membutuhkannya.

"Apa salahnya sih menolong orang?" ujarnya.

Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.

"Ikhlas yaaa, Bunda…," katanya sambil tersenyum manis.

Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata? Saya hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.

Oleh: Helvy Tiana Rosa
dari email kawan :

Friday, October 17, 2008

Tiga Universitas Masuk 500 Terbaik Dunia

Tiga Universitas Masuk 500 Terbaik Dunia
By Republika Contributor

DEPOK -- Tiga Universitas di Indonesia yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk dalam 500 universitas terbaik di dunia. Saat ini UI menduduki peringkat 287, ITB peringkat 315, dan UGM peringkat 316.

"Prestasi ketiga universitas ini menjadi sebuah hadiah bagi bangsa Indonesia, setelah 100 tahun kebangkitan nasional," kata Wakil Kepala Humas UI, Devie Rahmawati kepada ANTARA di Depok, Selasa.

Times Higher Education- QS World University Rangking (THE-QS World) mengeluarkan pengumuman resmi di seluruh dunia mengenai peringkat 500 universitas terbaik di dunia periode 2008.

Menurut Devie, Indonesia kembali mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa besar di dunia melalui keberadaan universitas dalam negeri berkelas dunia (world class university). "Kerja keras ini diharapkan akan mampu mendorong Indonesia mengulang sejarah, sebagai barometer pendidikan di asia bahkan dunia," katanya.

Ia mengatakan, dalam semangat peringatan 80 tahun sumpah pemuda, pencapaian ini diharapkan dapat membangkitkan rasa percaya diri anak bangsa untuk terus berkontribusi dalam membangun peradaban dunia melalui pendidikan nasional.
"Di masa datang bukan mustahil bila pemuda-pemudi terbaik dari dalam dan luar negeri hadir untuk mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia sebagai universitas kelas dunia," katanya.

Peningkatan peringkat UI, kata dia, dimungkinkan setelah terus berbenah diri dalam upaya memenuhi empat kriteria penilaian dari THE- QS World. Empat kriteria yang dimaksud ialah kualitas penelitian (research quality), kualitas pengajaran (teaching quality), kualitas lulusan (graduate employability) dan aspek internasional (international outlook).

UI mengantongi nilai signifikan pada aspek kualitas penelitian. Indikator dari aspek ini ialah persepsi mengenai UI dari para responden (peer review) di seluruh dunia serta jumlah kutipan (citations per faculty ) dari "paper" ilmiah yang dihasilkan oleh sivitas akademik UI, demikian Devie Rahmawati. ant/is

Siswa Inovasi



Trolon inovasi unik
Ditulis oleh Erna

Jakarta (Mandikdasmen): Siswi SMA Stella Duce I Yogyakarta, Olivia Marcelina Sugiharto, membuat sebuah karya yang menakjubkan, yaitu trolon. Alat ini bekerja dengan asas katrol beroda sederhana yang mampu mengerek galon berisi penuh air lalu membaliknya lewat bantuan as sesampainya di puncak.

Bingkai alat yang dibuat beroda memungkinkan galon diposisikan tepat di atas dispenser, sebelum diturunkan kembali. Mudah, higienis, dan, tentu saja, bebas encok, begitu Olivia menjagokan alat ciptaannya itu. "Sekarang alatnya sudah ada, tapi masih harus disempurnakan," katanya.Alat ini diciptakan karena ia prihatin melihat ayahnya yang mengalami sakit punggung setelah mengangkat galon air minum ke atas dispenser.

Kepala Biro Kerja Sama dan Promosi Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menilai trolon ciptaan Olivia, merupakan sebuah inovasi spontan yang tidak meninggalkan asas kreativitas. Alat itu lolos sebagai finalis dalam National Young Innovator Awards (NYIA) 2008, yang digelar LIPI sebagai perluasan dari lomba Teknologi Tepat Guna ke-3 pada tahun ini.

Trolon ini telah dipamerkan di Pusat Peragaan Iptek, Taman Mini Indonesia Indah. Bersamanya, dipajang pula 13 inovasi finalis lain buatan siswa-siswi SMP-SMA dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka semua tersaring ke Taman Mini dari total 120 inovasi untuk kemudian saling bersaing memperebutkan enam tiket ke International Exhibition for Young Inventors (IEYI) ke-5 di Taiwan, pada September nanti.

Finarya Legoh, anggota dewan juri yang juga Direktur PP Iptek, Taman Mini Indonesia Indah,mengatakan, keran ide harus dibuka selebar-lebarnya demi membangkitkan kreativitas di antara anak-anak usia 8-18 tahun itu. Kreativitas yang berhubungan dengan teknologi masih sangat lemah di Indonesia. "Ini tecermin dari masih rendahnya jumlah paten," kata tuturnya.

Dalam IEYI 2007, yang diselenggarakan di Indonesia, inovasi siswa Indonesia hanya menduduki peringkat ke-35 dari seluruhnya 117 inovasi yang datang dari delapan negara. "Kita harus membangkitkan kreativitas sedini mungkin, membuat anak-anak aware terhadap teknologi dengan berangkat dari kebutuhannya sendiri," katanya. (*/tnr)

Friday, August 15, 2008

Potret Indonesiaku Di usia 63 Tahun





Sweet dyan177@yahoo.co.uk

Genap 2 hari lagi Indonesia berumur 63 tahun.

Di usia 63 tahun ini Indonesia seakan masih tetap belajar berjalan,belum seutuhnya bisa berdiri tegak.....Kalau menurut ukuran usia Manusia seharusnyalah Indonesia sudah bener2 bisa berdiri dengan gagah dan kuat tak mudah goyah meski di terjang badai karena usia yg kian beranjak untuk terus belajar, namun kenyataan yg ada Indonesia masih ranum artinya belum bener2 matang...

Dalam usia yg kian senja ini Telah lewat tersia sia sekian dekade....
Telah mubazir sumber kekayaan karunia Pencipta. Telah kita bikin busuk seluruh sendi dan institusi. Nilai luhur cuma tersisa pada slogan di mulut berbuih.
Di usia 63 tahun ini Indoensia memang belum mati. Namun ibu pertiwi kini berdiri gemetar dan goyah. Dengan wajah bopeng menatap dunia.... Dikhianati anak-anaknya yang manja, pongah dan dusta.

Di haribaannya tergendong sejuta penyakit dan masalah .
Kemiskinan yang melahirkan keterbelakangan.

Pengangguran yang melahirkan rentetan kriminalitas dan hukum rimba..
Korupsi menyuburkan keserakahan, merusak solidaritas, melebarkan jarak antar manusia. Praksis politik yang cuma punya satu wajah''kekuasaan' '
Pendidikan yang hilang arah...Pelayanan publik yang kurang memadai, prasarana yang renta, lilitan utang menggurita. Koneksitas primordial yang eksklusif, primitif, teror. Rasa keadilan yang masih belum merata .

Hukum dan moral yang diperjual-belikan di pasar gelap. Barter duit dengan kekuasaan...Pekik merdeka, padahal de fakto kita terjajah !!
Ketika kita mendongak...Terpesona menatap merah-putih yang berkibar di pencakar langit dan kampung kumuh. Kita melupakan kontras yang menandai keduanya. Kita sejenak lupa bertanya tentang mimpi yang pernah diwariskan para pendiri kepada kita
Kita lupa bertanya makin dekatkah kita?Atau mimpi itu tak lagi relevan untuk jaman ini...?

Lalu ketika kita tertunduk dalam hening cipta yang senyap...
Di depan kita terpampang potret panjang realita. Lihat itu:
Siswa belia yang putus asa karena biaya pendidikan kian tak terjangkau..




Orok merah yang dihardik di rumah sakit. Barisan pengemis di lampu merah. Gelandangan yang terkapar dalam lapar. Mendekap bumi di kolong jembatan. Di bawah tiang jalan layang. Di sepanjang bantaran kali dan rel kereta
Lihat yang ini: Konglomerat penilap BLBI triliunan rupiah yg kasusnya baru sekarang di bongkar. Para pejabat yang berlimpah mewahSumringah wakil rakyat di pusat belanja dunia pertama
Dulu kita miskin, miskin bersama....Tapi kita punya sesuatu yang luhur, cita-cita bersama
Kemerdekaan harus ditebus dengan semua harga. Termasuk darah nyawa dan air mata. Demi mimpi hidup sejahtera... .


Kini cita-cita itu telah sirna. Bertransformasi menjadi labirin target-target pribadi. Atas nama keserakahan, atas nama ambisi.


Kita gadaikan tuhan, kita gadaikan kemanusiaan. ..
Maka kini. Di tengah pekik menggema... Bergaung pula sebuah tanya
Masihkah kemerdekaan menjanjikan peluang perbaikan... ?
Wahai Pemuda Dan Pemudi Indonesia , Mari bersama sama kita isi kemerdekaan ini dengan hal yang berguna bagi nusa dan bangsa...karena di pundakmulah kelangsungan hidup Indonesia ini .
Dan kita sebagai bangsa Indonesia yang telah merdeka wajib meneruskan cita cita para pendiri Negri ini karena kita juga termasuk pejuang pejuang Kehidupan .


Mari kita torehkan lukisan yang bermakna dalam kanvas Indonesia agar siapa pun yang nanti memotret Negri kita terlihat penuh keindahan .
Salm Merdeka Dari Pulau Formosa ^_^