Lensa Darbi
Showing posts with label Selayang Pandang. Show all posts
Showing posts with label Selayang Pandang. Show all posts

Tuesday, October 26, 2010

BerQurban, benarkah hanya untuk orang kaya?

Ada dua kejadian yang cukup menggugah hati saya. Dan kalau ditarik ternyata ada benang merah yang saling terkait menghubungkannya. Kejadian pertama, saya baru selesai membaca buku difference for excellence karangan Ashoff Murtadha. Di dalam buku tersebut ada kata-kata yang cukup membuat saya terhenyak. Setidaknya, ini sudah mementahkan tulisan saya yang berjudul Antara Kultum dan Rule Model, salah satu artikel posting saya yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu. Berikut saya kutip sedikit isi kata-kata dari buku tersebut:

“Untuk menolong si miskin, seseorang tidak perlu menunggu jadi kaya. Untuk menolong orang susah, ia tidak perlu menunggu hidupnya mudah. Untuk menolong orang bodoh, ia tidak perlu menunggu menjadi pintar dulu. Untuk melakukan kebaikan, ia tidak harus menunggu segala sesuatu pada dirinya sempurna dulu. Justru penyempurnaan akan dicapai saat kebaikan itu dijalankan. Penyempurnaan itulah yang akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya amal kebaikan.”

Duh, saya benar-benar merasa tersindir, sedih dan nelangsa banget membaca kutipan kata-kata tersebut. Jujur, saya termasuk orang yang belum bisa berbuat banyak untuk bisa membantu orang lain. Saya selalu punya seratus satu alasan tiap kali hati ini tergerak untuk berniat membantu sesama. Ah, semoga anda tidak seperti saya, orang yang terlalu banyak berpikir kalau diminta berbuat kebajikan untuk membantu sesama.

Kejadian yang kedua, ini terkait dengan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban, hari raya agama Islam yang akan dirayakan seluruh umat muslim, salah satunya termasuk saya, pada tanggal 27 November 2009 nanti. Ada seorang kawan hari Jumat lalu curhat kepada saya. Dulu dia berpikir-- pikiran yang sama seperti pendapat saya – bahwa seorang muslim yang diwajibkan berQurban adalah hanya orang yang sudah mampu saja. Dan definisi mampu disini gambarannya, bukan orang seperti dia yang masih menempuh kuliah, uang masih nodong minta orang tua setiap bulannya, tapi pastilah seseorang yang sudah bekerja dan paling tidak, kaya sehingga mampu untuk berQurban.

Suatu waktu di jaman kuliahnya dulu kawan saya menceritakan berniat akan berQurban karena disuruh oleh orang tuanya. Singkat cerita dia kemudian hunting ke desa-desa untuk mencari kambing buat Qurban. Akhirnya tiba lah dia di sebuah desa di kabupaten Bantul Yogyakarta. Dia mendapati seorang anak desa yatim miskin karena sudah ditinggal mati bapaknya. Anak tersebut punya beberapa ekor kambing yang siap dijual untuk dipakai berQurban. Kawan saya kemudian menceritakan berniat membeli satu ekor kambing yang paling besar diantara kambing lainnya. Tetapi anak tersebut menolak menjualnya. Teman saya kemudian bersikeras mencoba membujuk anak tersebut agar mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Tapi anak tersebut tetap bersikeras menolak dan mengatakan: “Silahkan Bapak pilih kambing saya yang lainnya, Pak asal jangan kambing yang paling besar ini.”

Teman saya kemudian menawar: “Berapa harga yang kamu minta untuk kambing yang paling besar ini, Dik? Tolong sebutkan berapa, saya tidak akan nawar dan berapa pun harga yang kau minta saya akan bayar,” tegas kawan saya sedikit memaksa.

Anak tersebut tetap bersikukuh tidak mau menjual kambing yang paling besar tersebut. Selidik punya selidik kawan saya jadi makin penasaran apa yang menjadi alasannya sehingga anak tersebut kekeh, tidak mau menjual kambingnya. Dan inilah alasan anak itu, yang membuat kawan saya jadi tersentak kaget mendengar jawabanya. “Bapak, kambing ini tidak saya jual karena mau saya pakai buat Qurban saya sendiri.”

Betapa terkejutnya kawan saya tersebut mendengar jawaban polos anak tersebut. Anak yang masih kecil, melarat, yang baru menginjak umur belasan tahun, dan masih duduk di bangku kelas 5 SD, yang untuk hidup sehari-hari saja susah, kok ya mau berQurban? Apalagi ini kambing yang paling besar pula, yang tentu saja bagi kebanyakan orang yang mau sedekah tentu merasa eman-eman untuk memakainya buat Qurban. Mending dijual aja buat makan atau biaya hidup lainnya. Toh, dia masih bisa Qurban dengan kambing lainnya yang lebih kecil. Deg! Kawan saya tersebut langsung menangis terharu, tersentuh hatinya mendengar jawaban polos anak tersebut. Jawaban, yang sekali lagi sudah mementahkan pendapat saya dan pendapat dia juga, bahwa berQurban hanya dilakukan oleh orang-orang kaya dan dewasa saja.

Dari dua kejadian ini, setidaknya sudah ada dua kejadian yang merupakan sebuah teguran tuhan kepada saya bahwa untuk tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, seharusnya saya tidak punya alasan lagi untuk menolak berQurban karena berbagai macam alasan.

Semoga cerita ini bisa sedikit menggugah hati anda. Dan harapan saya, meskipun anda yang baca tulisan ini bukan seorang muslim, terlebih seandainya iya, semoga anda bukan termasuk orang seperti saya, yang lupa kepada penciptaNya dan tidak mau berbuat baik membantu meringankan beban sesama, dengan salah satunya mau berQurban buat orang miskin di hari raya Idul Adha. Amin.

Selamat menyambut dan merayakan hari raya Idul Qurban, kawan!



Tuesday, March 31, 2009

Mengapa Semut Jalan Berbaris?



Semut Berbaris (flickr.com)
VIVAnews - Kalian pasti sering melihat semut-semut yang berjalan di tembok atau di tanah. Biasanya semut-semut itu berjalan berurutan dan membentuk garis. Jika semut-semut berkumpul mereka memang akan berjalan berbaris seperti tentara atau polisi.Apakah kalian tahu mengapa semut selalu berjalan rapi saat berkumpul? Semut adalah hewan yang hidup berkelompok. Jika pergi ke suatu tempat untuk mencari makan semut akan melakukannya bersama-sama.
Ketika berjalan pun mereka akan selalu bersama dan mengikuti kelompoknya. Nah, garis yang mereka bentuk saat berjalan adalah karena mereka akan mengendus aroma teman di depannya. Aroma yang ditinggalkan oleh semut itu dinamakan pheromone. Dengan cara itulah semut bisa mengikuti teman di depannya dan mengetahui jalan.Saat berjalan, semut juga akan meninggalkan aroma di tempat yang sudah ia lewati. Sehingga, saat akan kembali ke sarangnya mereka tidak akan salah arah.
Biasanya saat berjalan ke luar sarang semut akan dibimbing oleh semut pemimpin. Semut akan berjalan mengikuti pemimpinnya yang meninggalkan aroma dibelakangnya sehingga semut-semut lain bisa mengikutinya.Sekarang kalian sudah tahu kan, mengapa semut jalan berbaris.• VIVAnews

Sunday, January 07, 2007

Contact Us

Adress:
Sekolah Dasar Islam Terpadu Darul Abidin
Jl. Karet Hijau No. 29
Beji – Depok 16423
Jawa Barat
Indonesia



Phone:
021 – 77200857



Fax:
021 – 77202272




Email:

sdit_darbi@yahoo.co.id


Blog :
lensadarbi.blogspot.com

Wednesday, January 03, 2007

SEJARAH SDIT DARUL ABIDIN

S E J A R A H
SDIT DARUL ABIDIN adalah lembaga pendidikan dasar di bawah naungan Yayasan Darul Abidin pimpinan H. Indra T. Abidin. Mulai beroperasi pada tahun pelajaran 1998/1999 dengan nama SDI Plus Ummul Quro berdasarkan Surat Keputusan/izin pendirian Ka.Kanwil Depdikbud Prop. Jawa Barat No. 3042/I02.1/Kep/OT/99 tanggal 2 Juli 1999. Kemudian namanya berubah menjadi SDIT DARUL ABIDIN pada tahun pelajaran 2000/2001 berdasarkan Surat Keputusan/Izin pendirian Ka. Kanwil Depdiknas Prop. Jawa Barat No. 1050/I02.1/Kep/OT/2000 tanggal 1 Maret 2000. Saat ini terdapat 14 lokal kelas dari kelas 1 (satu) sampai kelas 6 (enam) dan sedang membangun gedung baru untuk SMPIT Darul Abidin

S T A T U S
a. Status sekolah : TERAKREDITASI A
b. Status bangunan : milik sendiri (YDA)
c. No. Statistik Sekolah (NSS) : I.01020528028
d. No. Pokok Sekolah Nasional (NPSN) : 20228703
e. No. Statistik Bangunan (NSB) : 00621283112205, 00621283112206, 00621283112207


VISI DAN MISI
1. Visi
Visi Darul Abidin adalah Menjadi lembaga pendidikan dasar dambaan umat
sekota Depok
2. Misi
Misi Darul Abidin adalah
• Membentuk generasi Qur’ani
• Mengembangkan potensi pribadi siswa
• Membangun kemampuan mengenal diri dan lingkungan
• Membentuk siswa yang mampu beradaptasi dengan lingkungan teknologi
• Memiliki budaya hidup sehat dan sportif
• Membangun kemampuan problem solving

FASILITAS FISIK

Dalam rangka meningkatkan proses kegiatan belajar mengajarnya, SDIT Darul Abidin akan senantiasa melengkapi serta mengembangkan fasilitas pendidikan, tentunya tidak terlepas dari dukungan Yayasan serta orang tua/wali murid. Di antara fasilitas yang telah tersedia sampai dengan tahun pelajaran 2007/2008, adalah :
1. Gedung dan ruang kelas yang representatif
2. Halaman depan
3. Halaman belakang untuk olahraga dan parkir
4. Aula
5. Masjid
6. Ruang Psikolog
7. Laboratorium multi media komputer
8. Play Ground
10. Kantin Sekolah
11. Perpustakaan
12. Kantin Sekolah

Leadership Team and Staff