Lensa Darbi

Tuesday, August 11, 2009

Kutipan

"Saya harus mendalami agama saya. Saya harus mendalami keadaan masyarakat saya, keadaan bangsa saya, dan kemanusiaan. Lalu mengapa saya tidak mendalami hal-hal yang menyangkut iman saya?" (W. S. Rendra)
sumber dari: swaramuslim

Rendra Tertarik dengan Alquran

"Penyair adalah jalan hidup. Baik sedang berkarya atau tidak. Seorang penyair masuk dalam konteks realitas karena kepedulian akan panggilan kharismatik dari alam sekitarnya, dari debu, kerikil, lava, angin, pohon, kupu-kupu, margasatwa. Dari yatim piatu, orang-orang papa, lingkungan kampung halamannya, lingkungan bangsanya, lingkungan kemanusiaannya. Ia harus selalu peduli. Tetapi tidak cukup cuma peduli, karena harus dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah. Kita buat, misalnya, sajak mengenai pelacur, mengenai singkong, atau mengenai perahu. Itu juga religius selama dikaitkan dengan meraih kehendak Allah".
Kalimat di atas adalah sepenggal dari pendermaan buah pikir seniman terbaik tahun 60-an, WS Rendra. Baginya, proses kreatif dalam menulis sebuah karya sastra adalah misteri. Dia mengatakan waktu untuk menulis dalam kehidupan hanya 2-3 persen. Beberapa jam selesai. Selebihnya menyiapkan diri untuk hidup secara kreatif, menjaga daya cipta, dan daya hidup.Si burung merak ini adalah seorang penderma pikiran yang tidak pernah menangis tak kala menghadapi kekuasaan politik. Dia sempat dijebloskan ke penjara pada 1978, dan mendapat represi pelarangan tampil di berbagai tempat."Saya menangis untuk masalah-masalah lain.
Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan Asmaul Husna," tutur Rendra saat diwawancara wartawan Republika, Iman Yuniarto F, di kediamannya pada Oktober 2006.
Cahaya Islam dalam Karya Sastra RendraSejak masuk Islam, Rendra mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra mengaku tahu alasan kenapa dia tertarik dengan Islam, tetapi dia sendiri tidak mengerti mengapa memutuskan masuk Islam. "Saya sebetulnya takut sekali terhadap masyarakat Islam. Tapi saya sudah lama tertarik kepada Alquran. Lihat saja. Apa ada kitab suci yang menjelaskan konsep ketuhanannya dalam kalimat yang singkat seperti Alquran?" tanyanya.Sewaktu Rendra kuliah di Amerika Serikat (kuliah teater), saat itu sedang populer-populernya filsafat eksistensialisme.
Kemudian, dia membaca kalimat, Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Rendra terkesan.Menurutnya, tidak ada kitab suci yang mengatakan bahwa manusia akan selalu merugi dalam perkara waktu. "Lihat. Apa pun bisa kita budayakan, termasuk ruang. Tetapi kita tidak bisa membudayakan waktu. Apa bisa kita menghentikan hari? Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak bisa kita membuat hari Rabu tidak menjadi Kamis. Termasuk saya, tidak bisa menolak kelahiran saya. Saya tidak bisa memilih untuk lahir pada abad ke-22 atau lahir zaman Majapahit," jelasnya.
Menurut Alquran, kita akan selalu merugi soal waktu. Tapi, Alquran juga menyodorkan solusi. Disebutkan hanya orang-orang tertentu yang akan selamat. Yakni yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kesabaran dan kebenaran. Alquran tidak menyebut yang selamat adalah orang yang Islam, orang yang kaya, orang yang pintar atau orang yang sehat.Ketika ditanya hubungan antara Islan dan karya sastranya, Rendra menjawab, "Intinya kita berwasiat dalam kebenaran. Mudahan-mudahan." c06

Monday, August 10, 2009

Kabar Baik

lensadarbi

Sebuah kabar baik hadir dari "Lomba Cerdas Cermat Alfabeta" tim dari SDIT Darul Abidin yang terdiri dari Ananda Farah, Affan, dan Ahdan mampu memberikan yang terbaik bagi SDIT Darul Abidin. Setelah pada lomba kemarin berhasil masuk final.

Pertandingan Final sendiri akan dipertandingkan minggu besok dengan peserta final yakni SDIT Darul Abidin dan dua wakil dari SDN Beji 7 yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Lomba cerdas cermat yang diadakan oleh BIMBEL ALFABETA yang beralamat di Jl. Bakung Kota Depok.

Bertanding dengan penuh percaya diri, Affan dkk berhasil mengalahkan lawannya dari SDN Depok Baru 4.

Pribadi Merdeka

lensadarbi - Depok.

Tepat 9 Agustus 2009 kemarin, bangsa dan rakyat Indonesia kehilangan seniman, budayawan, guru para pujangga, dan warga dunia yang arif dan bijaksana. Si Burung Merak telah tiada karena dipanggil sang pencipta. Seakan mengingatkan kembali kepada kita bahwa beliau telah berbuat banyak untuk kemerdekaan bangsa dan rakyat Indonesia, walau lewat aksi seni dan budayanya, walau tanpa angkat senjata, sejatinya dialah pahlawan bangsa.

Pahlawan bangsa tidak harus berjuang dengan senjata, tetapi dengan gebukkan senar raket oleh para atlit tepok bulu angsa, juga dengan nyanyian lantang, dengan ayunan kaki saat menendang bola, dll. W. S. Rendra telah mengajari kita bagaimana seharusnya kita memandang.

Kebaikan kita untuk siapa??, saudara ada dipihak yang mana?? yah, Rendra begitu ia disapa tak pernah tinggal diam dalam menyuarakan suara rakyatnya. Pribadi merdeka itu telah tiada. Masih adakah penerus "Si Anjing Liar dari Yogyakarta" ini???

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, selamat jalan pribadi merdeka, selamat jalan W.S. Rendra...
Semoga Tuhan senantiasa membalas dengan yang lebih baik di surga kelak Amiin.

Laporan Pandangan Mata Langsung dari Sukmajaya


Tim SDIT Darul Abidin baru saja mengirimkan putra – putra terbaiknya dalam mengikuti Kejuaraan Mini Soccer “JSIT CUP” di SDIT Rahmaniyah Depok II dengan mengirimkan dua tim, yakni SDIT Darul Abidin A dan SDIT Darul Abidin B.

Rabu, 5 Agustus 2009

Olimpiade JSIT dibuka oleh ketua JSIT Pusat yakni, Bapak Sukro Muhab, SDIT Darul Abidin B memulai pertandingan dengan mengalahkan SDIT Darul Fikri dengan skor telak 12- 0. Pemain- pemain yang diturunkan dalam pertandingan tersebut adalah : Fikri, Hanif, Dika, Ivan, Angga, Rafi, Bima, Affan, dan Raihan.

Sedangkan dipertandingan kedua SDIT Darul Abidin A berhasil mengalahkan SDIT Mawaddah dengan skor yang juga cukup telak yakni 5-0 untuk kemenangan SDIT Darul Abidin A. Pemain yang diturunkan pada pertandingan tersebut adalah: Aflah, Khalis, Panji, Fauzan, Emir, Arie, Ara, Nandi, Dzaki F.

Kamis, 6 Agustus 2009

Pukul 08.00 WIB
Tim SDIT Darul Abidin A melaksanakan pertandingan keduanya melawan SDIT Raflesia dengan skor meyakinkan yakni: 4- 0 untuk keunggulan SDIT Darul Abidin A yang dikomandoi oleh Aflah, juga dengan duet strikernya Khalis dan Fauzan, serta Stopper Emir dan Panji sang penjaga gawang.

Tim SDIT Darul Abidin B melaksanakan pertandingan keduanya dengan mengalahkan SDIT Hidayatullah dengan skor 6 – 2 untuk keunggulan SDIT Darul Abidin B dengan pemain intinya: Hanif sebagai komando, Rafi dan Angga sebagai ujung tombak, serta Dika sebagai Stopper.

Pada pukul 11.00 WIB
Tim SDIT Darul Abidin A melaksanakan pertandingan ketiganya melawan SDIT Al – Haraki dengan skor telak 7-0, pada pertandingan kali ini SDIT Darul Abidin A menurunkan pemain- pemain sebagai berikut: Aflah, Panji, Khalis, Fauzan, Emir, Dzaki, Arif, Ara, Nandi, dan Arie.

Pukul 11.22 WIB
Tim SDIT Darul Abidin B melaksanakan pertandingan ketiganya melawan SDIT Al Barkah dengan drama adu penalti. Kemenangan susah payah ini diraih setelah hasil sama kuat di dua babak plus 2 babak perpanjangan waktu 2 x 5 menit. Setelah di pertandingan normal berakhir imbang 1 – 1.

Pada adu tendangan penalti, Penendang pertama yakni Angga mampu mencetak skor terlebih dahulu 1- 0 untuk darbi sebelum disamakan oleh pemain jangkung SDIT Al Barkah. Pada tendangan kedua dipercayakan kepada Dika yang berhasil memberikan keunggulan 2-1. Sebelum akhirnya disamakan kembali menjadi 2- 2. Hanif sebagai penendang ketiga SDIT Darul Abidin mempu mengecoh kiper Al Barkah hingga membuat skor 3- 2. Pada tendangan terakhir kiper SDIT Darul Abidin B yakni Fikri menjadi penjaga gawang terbaik setelah mampu memblok tendangan keras pemain Al Barkah. Memaksa skor 3 – 2.

Pukul 12.45 WIB
Pada pertandingan ketiga setelah habis terkuras tenaga, SDIT Darul Abidin A dan B melaksanakan pertandingan berbarengan, hingga membuat tim Manager dan Offisial membagi tugas mengawasi tim SDIT Darul Abidin A yakni Pa. Heri dan Pa. Rudi, serta offisal tim SDIT Darul Abidin B oleh Pa. Soni dan Pa. Mansur.

Tim SDIT Darul Abidin A berhadapan dengan tim SDIT Nurul Fikri A, tim dengan ciri fisik menjulang, membuat mental beberapa anak SDIT Darul Abidin mengkerutkan dahi. Tapi dengan keyakinan dan perjuangan pantang menyerah, akhirnya Aflah dkk menyerah dengan skor telak 11 – 5.

Tim SDIT Darul Abidin B berhadapan dengan SDIT Pondok Duta A. Pada waktu normal berakhir imbang 2 – 2. Melalui skor yang dicetak oleh Fikri dan Angga. Setelah itu pertandingan dilanjutkan dengan extra time pada menit akhir tersebut akhirnya SDIT Darul Abidin harus mengakui keunggulan SDIT Pondok Duta dengan skor 2-3.

Perjuangan hingga tetes darah penghabisan dan kucuran keringat terakhir, itulah yang telah diberikan oleh siswa- siswa kita tim Futsal SDIT Darul Abidin yang berada di bawah nanungan tim Darbi Power Futsal Management yang telah menyuguhkan permainan cantik dan menawan selama perhelatan turnamen dengan banyaknya pendukung ataupun supporter dari SDIT lain.

Permainan dengan kerjasama yang menarik membuat beberapa pelatih ataupun pemain lain menjadikan SDIT Darul Abidin momok menakutkan bagi tim- tim lain, namun evaluasi diberikan kepada para pemain dan pelatih untuk segera membenahi fisik para pemain yang terlihat kedodoran pada pertandingan “Perempat Final” yang amat menentukan.

Terima kasih kami ucapkan kepada Kepala Sekolah, Wakil, Guru, dan juga teman- teman semua yang telah mendoakan kami hingga mampu menembus babak perempat final. Doakan kami agar lebih sukses pada turnamen- turnamen berikutnya. Amin.


Depok, hari 7 bulan 8 tahun 2009

Atas nama

Mansur dan segenap tim pelatih…. Wassalam

Tuesday, August 04, 2009

Bersatu Untuk Indonesia...

lensadarbi.blogspot.com
Bulan ini (Agustus) bukan hanya menjadi bulan kemerdekaan tetapi juga bulan dimana setiap manusia Indonesia bersatu dari berbagai macam perbedaan. Bersatu untuk mewujudkan Indonesia bangkit, sejahtera, adil dan makmur. Demi terwujudnya rasa persatuan tersebut maka sebelum 17 Agustus 1945 telah kita kenal "Bhineka Tunggal Ika" yang sangat khas Indonesia, yakni berbeda- beda tetapi tetap satu jua.
Bagaimana peristiwa Sumpah Pemuda-pun mampu menghancurkan perbedaan menjadi kekuatan, hingga 17 tahun setelahnya kita mampu mencapai kemerdekaan. Sejatinya kemerdekaan ini bukan diraih dalam satu malam, ataupun dengan mudahnya seperti membalikkan telapak tangan. Namun, darah syahid para syuhada, keringat dan perjuangan rakyat, bersatunya militer dan sipil, bersatunya umat, ulama dan umara didukung dengan kekuatan militer dan tentunya izin dari Allah SWT. Maka, tepat pada bulan Ramadhan (saat itu 17 Agustus 1945) kita dimerdekakan sekali lagi atas berkat rahmat Allah SWT.

Pengorbanan, Persatuan dan Perjuangan yang bangsa lakukan saat itu mampu menjadikan bangsa Indonesia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa - bangsa barat (red: yang notabene warga kelas satu).

Maka di bulan Agustus ini, tepat juga di bulan Ramadhan nanti, akankah kita masih dapat bersyukur bahwa sejatinya kemerdekaan adalah pemberian Allah untuk kita, yang harus kita jaga dan kita isi kemerdekaan ini untuk sebaik- baik menghamba-Nya, juga menyejahterakan rakyat Indonesia ini dari berbagai kemiskinan, pengangguran, dan dari berbagai belenggu tirani.

Berikan kami kekuatan ya Allah untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik- baik usaha maksimal kami, untuk kembali menghadap- Mu di surga kelak. Amin

Mari kita bersatu untuk Indonesia. mr